Saturday, February 25, 2012


Hasil Hutan Non Marketable... apa itu?
Oleh : Munandar *)
Dalam konteks kekinian, dimana tuntutan land reform semakin kuat dan mulai memakan korban jiwa seperti di Mesuji Lampung dan Sumatera Selatan, konsep non market perlu mendapat perhatian. Pandangan yang berkembang di masyarakat mengarahkan pada produktivitas bahan pangan.
Konsep Valuasi Ekonomi Sumberdaya Hutan
Suatu kawasan hutan selain sebagai sumberdaya penghasil kayu sering dinilai rendah (undervalued). Walhasil,  hutan pada posisi menjadi target pengalihan fungsi. Kawasan hutan dipandang akan lebih memberi manfaat ekonomi manakala diubah menjadi perkebunan atau pertanian. Nilai ekonomi sumberdaya hutan baru disadari  bilamana semakin langka keberadaannya  dan  kesejahteraan manusia menjadi terganggu. Nilai sumberdaya hutan yang tersebunyi (implisit), dalam arti  jika ia dibiarkan manfaatnya tetap mengalir bagi manusia. Sayang nilai ini belum banyak terungkap secara memuaskan. Hutan memiliki nilai-nilai ; ekonomik, intrinsik, budaya maupun estetika.  Nilai–nilai tersebut, menurut Fauzi (2004),  hutan tidak saja memberikan manfaat  pada saat  ditebang  ( manfaat eksploitasi)  namun juga banyak memberikan manfaat tatkala sumberdaya ini dibiarkan  (manfaat konservasi).

Thursday, February 23, 2012


DILEMA ROTAN INDONESIA
Ketika blusukan mengumpulkan informasi tentang budidaya rotan di Kalimantan Selatan penulis menemukan fenomena yang menarik. Mana uang dan mana dluwang? (bahasa Jawa kertas). Pilihan sederhana untuk memperoleh keuntungan. Beberapa narasumber menyebutkan saat  ini produksi rotan di daerahnya sangat rendah. Konon, selama harga karet alam masih cukup stabil petani  memilih membiarkan rotan berjuntaian liar di kebun dan hutan. Harga jual rotan asalan memang sedang murah kala itu, yakni sekitar  Rp. 2000 per kilo. Petani lebih suka memanen karet alam yang harga per kilonya  Rp. 9000. Lumayan. Pilihan utama selalu uang, jadi buat apa nyungsep-nyungsep memanen rotan jika uangnya tidak memadai?. Begitu kira-kira pertimbangan sederhananya. Menurunnya pasokan rotan dari tingkat petani tidak terlepas dari lesunya industri rotan yang telah terjadi beberapa tahun belakangan ini. Pengumpul di daerah penghasil seperti Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Utara dan Barito Kuala lebih banyak menunggu datangnya pesanan dari pengumpul dan industri pengolahan rotan di Banjarmasin dan Banjarbaru.